Tidak dimungkiri, kesan pertama yang melekat saat bertemu orang adalah busana yang ia kenakan. Itu mengapa memilih pakaian tak boleh sembarangan. Utamanya jika untuk dipakai saat hari besar.

Supaya tidak terkesan asal-asalan, ada baiknya konsultasi terlebih dulu dengan jasa penyedia jas pesta. Wong Hang Tailor, misalnya, membuka kesempatan klien untuk menyampaikan aspirasi mereka. ”Biasanya kami berdiskusi sehingga dapat mengerti karakter si calon pengantin, konsep acara, dan garis besar warna yang diinginkan oleh pasangan pengantin,” tutur Stephen Wongso, generasi keempat Wong Hang Tailor yang kini ikut mengelola tailor berusia 86 tahun itu. Butuh tahapan yang tidak pendek untuk menghasilkan satu jas pengantin. Stephen menjelaskan, setelah diskusi awal akan ada bahasan lanjutan soal desain dan cutting. Juga, tahap pengukuran. ”Banyak yang harus dipastikan. Seperti warna rompi, dasi, kemeja, saputangan di saku dada jas atau pocket square, serta bentuk kancing yang cocok,” kata Stephen.

Jika berkiblat pada tren, busana pengantin pria tahun ini banyak berpengaruh oleh gaya klasik. Warna gelap seperti hitam dan biru navy masih dominan. Sementara model yang dipakai ialah tuksedo berukuran slim fit dengan satu atau dua kancing, serta berdasi kupu-kupu.

Modifikasi Wong Hang sebagai rumah mode tidak melulu menjiplak tren mentah-mentah. Stephen mengungkap, tidak menutup kemungkinan akan ada modifikasi model sesuai kebutuhan pengantin. Misal dengan melihat faktor proporsionalitas tubuh. Pemilihan dasi kupu-kupu, contohnya, harus sesuai bentuk badan pengantin pria. ”Ada lima atau enam jenis dasi kupu-kupu. Misalnya butterfly atau klasik. Bahannya pun bervariasi, ada bludru, satin, maupun satin sutra.

Begitu pula dengan ukurannya yang bermacam- macam. Dari tiga hingga delapan inchi,” terang Stephen.

Begitu pula dengan pemilihan bahan. Meski Wong Hang Tailor menggunakan 100 persen wol, namun tingkat kerapatan benang yang digunakan berbeda- beda antara satu klien dengan lainnya.

Misalnya klien bertubuh bongsor tidak disarankan memakai wol 120s karena berbahan tipis. Detail demi detail yang mereka utamakan tidak lain untuk mendapat kesan tampilan simple minimalist. Tak lupa, rumah mode yang mendirikan cabang di Jalan Imam Bonjol Nomor 176 Semarang ini punya tanggung jawab memadu padankan komponen jas agar si pemakai merasa percaya diri dan layak. ”Kami mengusung konsep ”young, smart, and casual”. Jadi bagaimana anak muda yang memakai jas tetap terlihat kasual, tidak tampak tua. Dan, ada efek bossy atau seperti bos,” pungkas Stephen.

 

Sumber : SM